SOSIALIASI BANTUAN DANA MODUL DIGITAL KEMENRISTEKDIKTI

Dalam rangka perkembangan revolusi industry 4.0 yang menuntut kesesuaian antara dunia pendidikan dengan industry, membuat perguruan tinggi harus mampu mengembangkan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan pemanfaatan teknologi dan informasi, yang menjadi bagian dalam upaya mencetak generasi yang kompeten dan sesuai zaman. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan dosen diperguruan tinggi baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi suatu hal yang harus segera dilakukan.

Sesuai dengan PERMENRISTEKDIKTI NO 51 TAHUN 2018, Pemerintah melalui Kementrian Riset Teknologi Pendidikan Pelatihan (kemenristekdikti) mengadakan sosialiasi bantuan dana pengembangan dan penyelenggaraaan inovasi pembelajaran dan modul digital kepada 250 dosen dari Perguruan Tinggi dari LLT  DIKTI wilayah IV, LLT DIKTI Wliayah III, dan dosen dari perguruan tinggi dari luar jawa.

Selasa, 16 Juli 2019 Universitas Pamulang menjadi tuan rumah acara sosialisasi bantuan dana pengembangan dan penyelenggaraan inovasi pembelajaran dan modul digital tersebut. Acara yang dihadiri para dosen dari perbagai perguruan tinggi ini, dilaksanakan di gedung Viktor lantai 8 Universitas Pamulang.

Dalam sosialisasinya, Uwes Ani selaku pembicara dari Dikti menyampaikan, bahwa dosen yang mengikuti program dana hibah harus memenuhi syarat. “Adapun syaratnya prodi akreditasi A, lembaga akreditasi B, satu prodi mengajukan 1 mata kuliah (bisa dibuat secara tim), modul dibuat dalam bentuk animasi, bagi mata kuliah lulus seleksi akan di upload di sistem pembelajaran daring (SPADA) milik dikti serta tanda tangan kontrak yang akan diwakili oleh lembaga, dan yang terakhir bagi yang lulus seleksi akan memperoleh dana pendamping sebesar 100 juta,” ujar Ani, beliau melanjutkan, “ini merupakan upaya pemerintah untuk membuat inovasi pembelajaran jarak jauh dan inovasi modul digital dalam menghadapi era industri 4.0. Pemerintah akan memberikan dana hibah bagi dosen yang melakukan hal tersebut. Jika prodi pengusul belum terakreditasi A, bisa melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi swasta yang prodinya sudah terakreditasi A”.

Pembicara selanjutnya menghadirkan Bambang Wijiatmoko. Belia menjelaskan, dalam pembelajaran online harus menarik agar mahasiswa lebih mengerti dalam perkuliahan online. “Pembelajaran online tidak hanya menggunakan teks saja. Namun dosen harus mempunyai trik-trik dalam membuat video agar mahasiswa nyaman dan memahami dalam perkuliahan online. Beberapa negara sudah menerapkan hal ini, jika kurang dari 50 persen perkuliahan online, maka dinamakan blended learning. Jika sudah 50 persen online maka sudah perkuliahan jarak jauh (PJJ),” terang Bambang.



Bambang juga mengungkapkan, konten materi perkuliahan harus ada indikator interaksi dengan mahasiswa. “Dalam pembelajaran e-learning ada interaksi juga dengan mahasiswa. Ditambah dengan video animasi berbahasa Indonesia, namun ada subtitle bahasa Inggrisnya, sertakan juga kolom diskusi supaya terjadi interaksi dengan mahasiswa,” ungkap Bambang.  Untuk teknis, Bambang menambahkan, agar membuat proposal dahulu. “Kuota proposal dana modul digital dari hibah dikti berjumlah 30 dan inovasi pembelajaran berjumlah 15. Modul digital dan pengembangan inovasi pembelajaran yang dibuat dalam satu semester perkuliahan. Pembuatan proposal bukan perorangan tetapi kelompok. Untuk pengajuannya dilakukan dengan bermitra yaitu berkolaborasi dengan perguruan tinggi lain. Jika proposal lolos, Kemenristekdikti akan melakukan bimtek sebagai wadah bagi pemenang hibah dalam pemaparan proposal yang sudah lolos,”

Pembicara selanjutnya adalah Yulita. Beliau juga menjelaskan, pendidikan jarak jauh merupakan kebijakan dari Kemenristekdikti  sesuai permen ristekdikti no. 51. “Sosialisasi difokuskan pada matakuliah yang bersinergi dengan revolusi Industri 4.0. Semua sudah harus digital termasuk pendidikan jarak jauh, pembelajaran e-learning yang lebih kreatif, inovatif dengan menampilkan video seperti animasi atau simulasi,” tutur Yulita. “Modul digital harus istimewa, menarik, karena tantangan e-learning harus lebih canggih, sehingga mahasiswa bisa belajar secara mandiri dan dosen hanya sedikit membimbing. Pembelajaran e-learning haru sama dengan pembelajaran di kelas, lebih maksimal karena perkuliahan dilakukan secara fleksibel. Modul digital diutamakan untuk program vokasi, pariwisata, dan keperawatan, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk program yang lain. Bantuan dana sekitar 100.000.000 per-mata kuliah dan bantuan dana dari perguruan tinggi dosen yang bersangkutan,” pungkas Yulita

Dalam acara ini Prodi Teknik Elektro diwakili oleh Siti Rokhmanila, S.Pd., M.Si, Seflahir Dinata, S.T., M.Pd.T dan Kartika Sekar Sari, S.T., M.T. (Red. Rahman)